Sistem Pendidikan Dalam Islam

Sistem Pendidikan Dalam Islam*

Beberapa minggu yang lalu kita telah memperingati Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) yang bertepatan pada tanggal 02 Mei 2010, momen inilah yang senantiasa kita harapkan dan dambakan supaya pendidikan di negeri yang kita cintai ini menjadi lebih baik, namun apa yang terjadi pendidikan di negeri kita ini makin hari semakin terpuruk dan bahkan mulai dari biaya sampai kepada kurikulum pendidikannya yang tidak membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang ada akhirnya pendidikan hanya dikhususkan kepada orang yang mampu saja sedangkan orang miskin tidak bisa mengenyam pendidikan sampai ke perguruan tinggi dikarenakan biaya pendidikan yang mahal, sehingga cita-cita bangsa ini dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa akan menjadi sia-sia saja bahkan tidak akan pernah tercapai.

Kemerdekaan pendidikan, itulah mimpi jutaan masyarakat Indonesia. Semakin cerah dan berawan saja, tatkala UU No. 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (BHP) memetuk palu dan menyatakan bahwa UU ini inkonstitusional (tidak sesuai dengan Pembukaan UUD 45). Ini merupakan hadiah gembira bagi masyarakat Indonesia dalam perayaan pendidikan 02 Mei. Namun, ini sekedar mimpi. Yang hanya menjadi bunga tidur saja. Pada kenyataannya, Pendidikan tetap mahal dan hanya milik mereka yang mampu saja. Bahkan untuk masyarakat miskin, membeli formulir ujian masuk universitas pun sepertinya mencekik kehidupan.

Ironis memang. Negeri yang memiliki nilai kekayaan yang berlimpah ternyata pendidikan hanya dimiliki oleh mereka yang mampu. Dengan begitu jumlah mereka yang mengenyam pendidikan jauh dari angka yang diharapkan. Akibatnya, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia pada 2009 bernilai 0,734 menurut laporan pembangunan manusia United Nations Development Programme (UNDP) IPM yang dibuat menempatkan Indonesia pada ranking ke 111 dari 182 negara. Ini masih kalah dengan rangking sejumlah Negara di ASEAN dan Asia seperti Malaysia (66), Singapura (23), Filipina (105), Thailand (87) dan bahkan Sri Lanka (102).

Dalam UU No.20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Pasal 3 disebutkan bahwa, Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Berdasarkan definisi ini, dapat difahami bahwa pendidikan nasional berfungsi sebagai proses untuk membentuk kecakapan hidup dan karakter bagi warga negaranya dalam rangka mewujudkan peradaban bangsa Indonesia yang bermartabat, meskipun nampak ideal namun arah pendidikan yang sebenarnya adalah sekularisme yaitu pemisahan peranan agama dalam pengaturan urusan-urusan kehidupan secara menyeluruh. Dalam UU Sisdiknas tidak disebutkan bahwa yang menjadi landasan pembentukan kecakapan hidup dan karakter peserta didik adalah nilai-nilai dari aqidah islam, melainkan justru nilai-nilai dari kebebasan.

Pemerintah dalam hal ini berupaya mengaburkan realitas pendidikan (sekulerisme pendidikan) tersebut, sebagaimana terungkap dalam pasal 4 ayat 1 UU No.20/2003 yang menyebutkan, “Pendidikan nasional bertujuan membentuk manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak dan berbudi mulia, sehat, berilmu, cakap, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggungjawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan tanah air.” Sepintas, tujuan pendidikan nasional di atas memang tidak nampak sekuler, namun perlu difahami bahwa sekularisme bukanlah pandangan hidup yang sama sekali tidak mengakui adanya Tuhan. Melainkan, meyakini adanya Tuhan sebatas sebagai pencipta saja, dan peranan-Nya dalam pengaturan kehidupan manusia tidak boleh dominan. Sehingga manusia sendirilah yang dianggap lebih berhak untuk mendominasi berbagai pengaturan kehidupannya sekaligus memarjinalkan peranan Tuhan.

Ada indikasi kuat bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan sains teknologi yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional tidak memiliki hubungan yang kuat dengan pembentukan karakter peserta didik. Padahal, pembentukan karakter merupakan bagian penting dari proses pendidikan. Agama yang menjadi faktor penting dalam pembentukan karakter peserta didik hanya ditempatkan pada posisi yang sangat minimal, dan tidak menjadi landasan dari seluruh aspek. Minimalnya peran agama, tampak jelas pada UU Sisdiknas No.20 tahun 2003 Bab X tentang Kurikulum pasal 37 ayat (1) kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat 10 bidang mata pelajaran, dimana disana terlihat bahwa pendidikan agama tidak menjadi landasan bagi bidang pelajaran lainnya.

Hal ini berdampak pada tidak terwujudnya tujuan pendidikan nasional sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi diri untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan diri, masyarakat, bangsa dan negara. Paradigma pendidikan sekular melahirkan kualitas sumber daya manusia yang rendah. Kondisi kualitas sumber daya manusia yang rendah ini memperburuk kehidupan bermasyarakat. Memang dengan pendidikan sekarang masih bisa melahirkan generasi yang ahli dalam pengetahuan sains dan teknologi, namun ini bukan merupakan prestasi, karena pendidikan seharusnya menghasilkan generasi dengan kepribadian yang unggul dan sekaligus menguasai ilmu pengetahuan. Buruknya kondisi kehidupan masyarakat akibat rendahnya kualitas sumber daya manusia tampak pada masih banyaknya kasus tawuran, seks bebas, narkoba dan perilaku jahat lainnya yang dilakukan para peserta didik di negeri ini.

Buruknya sistem pendidikan Indonesia semakin nyata. Paradigma pendidikan yang sekuler (pemisahan peranan agama dalam pengaturan urusan-urusan kehidupan secara menyeluruh), biaya pendidikan yang mahal, pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan yang tidak merata, standar kelulusan yang tidak merepsentasikan tingkat kemampuan peserta didik dalam menuntut ilmu. Ini semua terjadi karena diterapkannya sistem Kapitalisme yang menjadikan sekularisme (pemisahan peranan agama dalam pengaturan urusan-urusan kehidupan secara menyeluruh)sebagai asasnya.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa sistem pendidikan nasional yang diterapkan di negeri kita saat ini tidak akan pernah bisa mewujudkan apa yang menjadi cita-cita dan tujuan bangsa seperti yang tertera dalam UU No.20/2003. Oleh karena itu sebagai mahasiswa muslim dan kaum intelektual sudah selayaknya kita kembali kepada sistem pendidikan yang akan mewujudkan cita-cita dan tujuan bangsa kita ini yakni Sistem Pendidikan Islam, kami Lembaga Dakwah Kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (LDK STKIP) Kampus Purwakarta mengajak semua komponen kampus (Pimpinan, Staf Tata Usaha, dosen, Mahasiswa, Ormawa, dll) untuk mengetahui bagaimana Sistem Pendidikan Dalam Islam.

Pendidikan Islam terlahir dari sebuah paradigma (kerangka berfikir) dimana Islam berupa pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan kehidupan dunia, sebelum dunia dan kehidupan setelahnya serta kaitannya (hubungan) antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudahnya. Paradigma Pendidikan Islam tidak bisa dilepaskan dari paradigma Islam, karena pendidikan Islam berpangkal pada paradigma Islam itu sendiri. Paradigma Islam merupakan sumber dari paradigma pendidikan Islam, maka mustahil membangun paradigma pendidikan Islam tanpa memperhatikan paradigma Islam terutama menyangkut hakikat hidup manusia. Hakikat hidup manusia sebagai hamba Allah membawa konsekuensi untuk senantiasa taat kepada syariat Allah SWT. Maka, pendidikan harus diarahkan untuk membentuk kepribadian Islam yang tangguh, yaitu manusia yang memahami hakikat hidupnya dan mampu mewujudkannya dalam kehidupannya.

Dalam misinya sebagai khalifatullah, manusia berperan memakmurkan bumi. Dengan berbekal syariat Allah manusia diharapkan dapat menata kehidupan manusia dengan benar sesuai kehendak Allah serta dengan penguasaan sains dan teknologi, manusia diharapkan dapat mengambil manfaat sebaik-baiknya dari sumberdaya alam yang ada. Karenanya, pendidikan Islam disamping untuk membentuk kepribadian Islam, juga harus diarahkan untuk membekali pemahaman terhadap tsaqofah Islam dan penguasaan sains dan teknologi yang mumpuni. Jadi, pendidikan dalam pandangan Islam harus merupakan upaya sadar dan terstruktur serta sistematis untuk mensukseskan misi penciptaan manusia sebagai abdullah dan khalifah Allah di muka bumi.

Adapun tujuan pendidikan dalam Islam adalah suatu kondisi yang menjadi target dari proses-proses pendidikan termasuk penyampaian ilmu pengetahuan yang dilakukan, diantaranya: Pertama, untuk membentuk kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah) yaitu dengan tiga langkah: 1. menanamkan aqidah Islam dengan metode yang menggugah akal, menggetarkan jiwa dan menyentuh perasaan. 2. mendorong untuk senantiasa menegakan bangunan cara berfikir dan prilakunya di atas aqidah dan syariah Islam yang telah menghunjam kuat dalam hatinya. 3. mengembangkan kepribadian dengan cara bersungguh-sungguh mengisi pemikiran dengan tsaqofah Islamiyyah dan mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupannya dalam rangka melaksanakan ketaatan kepada Allah SWT. Kedua, menguasai tsaqofah (wawasan) Islam. Ketiga, menguasai ilmu kehidupan (sains dan teknologi) yang memadai (menggagas pendidikan Islam. Muhammad Ismail Yusanto,dkk).

Pelaksanaan pendidikan Islam di sekolah di masa kejayaan Islam, berdasarkan sirah Rasul dapat dideskripsikan sebagai berikut: kurikulum pendidikan didasarkan pada aqidah Islam, mata pelajaran dan metodologi pendidikan untuk penyampaian pelajaran seluruhnya disusun sejalan dengan asas aqidah Islam, tujuan pendidikannya merupakan penjabaran dari tujuan pendidikan Islam yang sesuai dengan tingkatan pendidikannya, sejalan dengan tujuan pendidikannya waktu belajar untuk ilmu-ilmu Islam diberikan setiap minggu dengan proporsi yang disesuaikan dengan waktu pelajaran ilmu-ilmu kehidupan (iptek dan keterampilan), dll.(menggagas pendidikan Islam. Muhammad Ismail Yusanto,dkk).

Dalam pandangan Islam, pendidikan adalah salah satu bentuk pelayanan pemerintah kepada rakyatnya yang wajib dipenuhi. Penyelenggaraan pendidikan untuk rakyat menjadi tanggung jawab pemerintah/negara. Dengan kata lain, pendidikan adalah hak rakyat yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Rasulullah saw bersabda, “Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat; ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.”(HR al-Bukhari dan Muslim). Seorang penguasa dalam Islam berkewajiban memenuhi sarana-sarana pendidikan, sistemnya dan orang-orang yang digaji untuk mendidik. Sehingga akan tercipta pendidikan yang berkualitas dan gratis.

Dalam Islam pendidikan gratis dan negara  wajib memberikan fasilitas pendidikan yang baik dari segi kualitas maupun kuantitas, sehingga dapat mencetak SDM yang unggul yang dibiayai oleh kas/keuangan negara (Baitul Mal), sumber-sumber penerimaan negara yang bersifat tetap yaitu dari: harta fa’i, ghanîmah, kharaj dan jizyah; harta milik umum; harta milik negara; ‘usyr; khumus rikâz; barang tambang (emas, minyak dan gas); dan zakat. Dengan seluruh sumber di atas, negara pada dasarnya akan mampu membiayai pendidikan bagi seluruh warga negara dari pendidikan dasar sampai perguruan tinggi baik warga muslim maupun non muslim. Allahuakbar!

*Penulis: Adriansah (Ketua Umum Lembaga Dakwah Kampus STKIP Kampus Purwakarta)

About these ads



    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: