Pemimpin Yang Ideal Dalam Perspektif Islam

Pemimpin Yang Ideal Dalam Perspektif Islam*

“Celebrity Politics” itulah sebutan kepada artis atau public figure yang terjun ke dunia perpolitikan saat ini. “Celebrity Politics” mulai dikenal dalam terminologi Ilmu Politik setelah para bintang film, pemain sinetron, komedian, dan penyanyi terjun ke dunia politik, bukan sebagai penghibur panggung kampanye atau pengumpul suara. Tapi, mereka, serius mengejar kursi jabatan publik seperti anggota DPR, bupati, walikota, gubernur atau bahkan presiden.

Akhir-akhir ini sedang marak pembicaraan tentang Gayus Tambunan pelaku makelar pajak dan yang tidak kalah menarik untuk disimak yakni Julia Perez “nyalon” sebagai Wakil Bupati Pacitan. Tren artis terjun di kancah legislatif menjadi wakil rakyat (anggota DPR), ternyata diikuti tren di kancah eksekutif. Setelah Dede Yusuf yang menjadi Wakil Gubernur Jawa Barat, dan kabar Ayu Azhari mantan bintang film panas  Indonesia yang mencalonkan diri sebagai Wakil Bupati Sukabumi, kini muncul kabar menghebohkan lagi. Julia Perez (Jupe), artis yang sering tampil seksi di sejumlah acara infotainment dan membintangi film/komedi panas ini kabarnya dipinang oleh seorang calon Bupati Pacitan, Jawa Timur dalam Pilkada Pacitan untuk periode kepemimpinan 2010-2015. Entah apa orientasinya, Julia Perez bisa dipinang sebagai calon wakil bupati dan didukung koalisi delapan partai politik.

JUPE (Julia Perez) artis seksi usia 29 tahun yang dikenal sebagai artis yang sering tampil seksi di sejumlah acara infotainment dan membintangi film/komedi panas dan pelantun lagu Belah Duren  itu mulai menyiapkan diri untuk terjun ke panggung politik bersaing dengan calon-calon lainnya. Julia Feres seperti dikutip JPNN berjanji akan meninggalkan dunia intertainment jika terpilih sebagai Bupati Pacitan nanti . Walaupun ia belum tahu banyak tentang Pacitan , artis yang membintangi film Mau Dong itu tetap bertekad mencalonkan diri sebagai Bupati . Ia banyak belajar tentang daerah tersebut karena ia ingin memajukan Pacitan .( Sumber JPNN, Infosketsa, Dokumentasi ).

Kalau kita melihat lebih jauh lagi tentang maraknya artis yang terjun ke dunia perpolitikan kita akan bertanya Mengapa belakangan ini muncul fenomena yang seperti ini? Kalau kita cermati ada tiga penyebabnya: Pertama; Bagi partai tentunya ini sebagai sarana untuk meraih dukungan suara, karena calon yang mereka dukung ada artisnya dan juga bisa menghemat biaya kampanye. Kedua; Politik ‘coba-coba’. Dengan memanfaatkan ketenaran, mereka coba-coba dengan harapan siapa tahu menang. Karena biasanya masyarakat akan memilih orang yang mereka kenal. Ketiga; Jumlah artis di negeri ini kian bertambah, hal ini menyebabkan persaingan diantara mereka semakin ketat. Artis-artis senior dan baru namun dari sisi keterkenalan yang semakin redup akhirnya mereka mencalonkan diri jadi penguasa dalam rangka mencari tempat baru untuk mengaktualisasi diri.

Namun yang menjadi pertanyaan lagi bagi kita, kenapa banyak artis yang diusung oleh partai politik tertentu seringkali menang. Ada dua hal penyebabnya: Pertama; Adanya kejenuhan yang dihadapi oleh masyarakat mengingat para kandidat yang ada tidak ada yang mereka kenal atau baru muncul pada saat menjelang Pilkada. Jadi susah bagi masyarakat menentukan pilihan karena sepak terjang para kandidat yang muncul tidak mereka ketahui. Kedua; Kegagalan Partai politik. Kegagalan ini dibagi dua yaitu kegagalan menciptakan kader dan kegagalan membentuk kesadaran politik masyarakat. kegagalan menciptakan kader dalam artian tidak memiliki calon-calon pemimpin yang berkualitas hasil didikan partai dari sejak kecil, hal ini berakibat pada ‘sistem comot’ orang-orang tertentu yang sudah dikenal oleh masyarakat. Sedangkan kegagalan membentuk kesadaran politik masyarakat adalah masyarakat tidak tercerdaskan dengan kondisi negeri mereka sendiri sehingga mereka tidak bisa mengambil sikap yang terbaik. Sikap memilih penguasa yang akan memimpin mereka. Kesadaran politik hanya bisa didapatkan dengan cara melakukan pendidikan politik. Misalnya, Kaderisasi, diskusi-diskusi yang sifatnya berkesinambungan.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa ketika maraknya kalangan artis yang mencalonkan diri menjadi seorang pemimpin di negeri kita ini tidak ada tolak ukur yang dijadikan standar yang jelas bagaimana pemimpin yang ideal. Oleh karena itu sebagai mahasiswa muslim dan kaum intelektual sudah selayaknya kita mengetahui bagaimana pemimpin yang ideal itu, kami Lembaga Dakwah Kampus Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (LDK STKIP) Kampus Purwakarta mengajak semua komponen kampus (Pimpinan, Staf Tata Usaha, dosen, Mahasiswa, dll) untuk mengetahui bagaimana Pemimpin yang ideal dalam perspektif Islam.

Sebaik-baik imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian serta yang senantiasa kalian doakan dan mereka pun selalu mendoakan kalian. (HR Muslim).

Syarat-syarat Khalifah/Pemimpin yang Ideal dalam perspektif Islam

Dalam Islam pemimpin disebut sebagai khalifah, dalam diri Khalifah/pemimpin wajib terpenuhi tujuh syarat sehingga ia layak menduduki jabatan Negara. Tujuh syarat tersebut merupakan syarat in‘iqâd (syarat legal).

Pertama: Khalifah/pemimpin harus seorang Muslim. Sama sekali tidak sah Kholifah diserahkan kepada orang kafir dan tidak wajib pula menaatinya, karena Allah SWT telah berfirman: Allah sekali-kali tidak akan memberikan jalan kepada orangorang kafir untuk memusnahkan orang-orang Mukmin. (TQS an-Nisa’ [4]: 141).

Kedua: Khalifah/pemimpin harus seorang laki-laki. Khalifah tidak boleh seorang perempuan, artinya ia harus laki-laki. Tidak sah Khalifah seorang perempuan. Hal ini berdasarkan pada apa yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Bakrah yang berkata, ketika sampai berita kepada Rasulullah saw. Bahwa penduduk Persia telah mengangkat anak perempuan Kisra sebagai raja, Beliau bersabda: Tidak akan pernah beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusannya kepada perempuan. (HR al-Bukhari).

Ketiga: Khalifah/pemimpin harus balig. Khalifah tidak boleh orang yang belum balig. Hal ini sesuai dengan riwayat Abu Dawud dari Ali bin Abi Thalib ra., bahwa Rasul saw. pernah bersabda: Telah diangkat pena (beban hukum, peny.) dari tiga golongan: dari anak-anak hingga ia balig; dari orang yang tidur hingga ia bangun; dan dari orang yang rusak akalnya hingga ia sembuh. (HR Abu Dawud).

Keempat: Khalifah/pemimpin harus orang yang berakal. Orang gila tidak sah menjadi khalifah. Hal itu sesuai dengan sabda Rasulullah saw. (yang artinya): Telah diangkat pena dari tiga golongan …, yang di antaranya disebutkan: orang gila yang rusak akalnya hingga ia sembuh. Orang yang telah diangkat pena darinya bukanlah mukallaf. Sebab, akal merupakan manâth attaklîf (tempat pembebanan hukum) dan syarat bagi absahnya aktivitas pengaturan berbagai urusan, sedangkan Khalifah jelas mengatur berbagai urusan pemerintahan dan melaksanakan penerapan beban-beban syariah.

Kelima: Khalifah/pemimpin harus seorang yang adil. Orang fasik tidak sah diangkat sebagai khalifah. Adil merupakan syarat yang harus dipenuhi demi keabsahan Kekhilafahan dan kelangsungannya. Sebab, Allah SWT telah mensyaratkan— dalam hal kesaksian, ed.—seorang saksi haruslah orang yang adil. Allah SWT telah berfirman: ….dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kalian…. (TQS ath-Thalaq [65]: 2).

Keenam: Khalifah/pemimpin harus orang merdeka. Sebab, seorang hamba sahaya adalah milik tuannya sehingga ia tidak memiliki kewenangan untuk mengatur urusannya sendiri. Tentu saja ia lebih tidak memiliki kewenangan untuk mengatur urusan orang lain, apalagi kewenangan untuk mengatur urusan manusia.

Ketujuh: Khalifah/pemimpin harus orang yang mampu. Khalifah haruslah orang yang memiliki kemampuan untuk menjalankan amanah Kekhilafahan. Sebab, kemampuan ini merupakan keharusan yang dituntut dalam baiat. Orang yang lemah tidak akan mampu menjalankan urusan-urusan rakyat sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah, yang berdasarkan keduanyalah ia dibaiat.

*Penulis: Adriansah (Ketua Umum Lembaga Dakwah Kampus STKIP Kampus Purwakarta)




    Berikan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    WordPress.com Logo

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Twitter picture

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Facebook photo

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Google+ photo

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: